Tips Meredam Udara Panas di Rumah
filed in Tutor on Oct.21, 2008
Melanjutkan tips mengatas efek udara panas, berikut tips meredam udara panas jika berada di rumah yang masih mengalami kegerahan. Banyak rumah terasa panas tetapi bingung bagaimana cara mengatasinya
(menurunkan suhunya) … apalagi minggu-minggu ini udara di Jakarta sedang panas-panasnya, jadi tambah terasa tuh panas. Padahal sudah ada lubang ventilasi, jendela sudah dibuka lebar, plafon sudah tinggi, dsb, tetapi rumah tetap panas saja …
Bagi yang tinggal di rumah sendiri dan merasa kegerahan, ada baiknya mengecek beberapa alasan di bawah ini kenapa bisa terjadi hal tersebut:
1) Terkena sinar matahari secara langsung (tanpa pelindung atap) apalagi pada saat terik tanpa protektif awan dan mendung, yakni pada jam-jam sibuk radiasi panas (13.00-15.00) …
2) Rumah yg tidak memiliki sirkulasi udara yg baik, yakni lubang ventilasi yg minim, jendela banyak bermaterial kaca tapi jarang dibuka dan sering menerima panas matahari scr langsung. Hingga
menimbulkan “efek rumah kaca” atau dlm fisika disebut “efek black-hole”, yakni radiasi (kalor) bisa masuk tapi kalor tidak mampu lagi dibuang keluar … sehingga mengendap dalam rumah dan membuat
perubahan suhu meningkat disana …
3) Desain lapisan pelindung panas (atap) langsung bersisian/berhadapan dg kulit tubuh manusia …. Sebaiknya rumah memiliki “rongga antara” atau “rongga peredam panas” (hot air barrier space-HABS) yakni antara atap (genteng) dan papan plafon.
Panas di dalam rumah sering terjadi ketika HABS ini tidak memiliki lubang keluar-masuk udara yang diharapkan mampu membuang uap kalor yg masuk agar tidak mengendap di sana, sehingga rumah tidak merasakan kelembaban udara luar rumah yg panas luar biasa scr langsung. Atau tidak menciptakan “efek black-hole” baru.
Jangan sampai tidak ada lubang ventilasi untuk membuang kalor (panas) dalam ruangan itu secara teratur dan cepat (seketika) …. Banyak rumah berplafon tinggi, kadang bidang plafonnya sejajar dengan bidang atap (genteng), lalu main tutup saja HABS-nya, tidak disisakan lubang untuk pembuangan panas sehingga menimbulkan “efek rumah kaca”, ruang panas yang tercipta tersebut mirip selimut panas yg memanaskan ruangan didalamnya, seperti cara kerja AC (AIR CONDITIONER), namun fungsinya kebalikan, kalo AC bukan memanaskan, tapi mendinginkan suhu yang diprotektifnya …
Walaupun di sisi dinding telah banyak dibuang rongga, entah itu berupa jendela/pintu (telah dibuka daunnya), lubang ventilasi diperbanyak, namun suhu tidak menurun jg secara “signifikan”, masih terasa panas saja.
Udara panas didalam ruangan antara plafon dan atap yang tidak mampu keluar tersebut, dan menyimpan suhu panas yg semakin meningkat (terutama pada jam sibuk radiasi tadi), bisa kita disebut pula dengan istilah: “hidden hot air” (H2O) … yakni rongga panas yang jarang terduga … Itulah kenapa, telah merubah desain apapun pada dinding rumah dengan membuat banyak ventilasi atau jendela, tapi panas tak kunjung menurun secara signifikan, kasus-kasus ini banyak kita temukan pada rumah-rumah yg bersuhu panas seperti di Jakarta (Utara), Semarang (utara), dan lain lain yg memang kota-kota itu sendiri sudah terkenal dengan udara panasnya, mungkin dekat pantai ya, ditambah lagi pendekatan desain peredam panas yg kurang mengena pada bangunannya … maka makin panas saja …
Dimodifikasi ulang dari Milist TR.
Popularity: 6% [?]



November 11th, 2008 on 12:47 pm
[...] hujan yang baru saja datang menggantikan musim kemarau yang panas kali ini menurut ramalan Badan Meteorologi dan Geofisika akan segera membanjiri lebih cepat dari tahun [...]