Sudah dapat dipastikan, menjelang hari raya Idul Fitri, sebagian besarmasyarakat muslim di Indonesia, terutama di pulau Jawa yang sedangmerantau akan pulang kampung alias MUDIK. Hijrah sementara secarabesar-besaran ini mengurangi sebagian besar penduduk di Kota-kota besarkita, terutama di JAKARTA yang notabene merupakan pusat Ibu kota Indonesia dan juga berkumpulnya berbagai ras yang mencoba mengadu nasib, keberuntungan dan rejekinya.
Kapan sebenarnya perilaku Mudik ini terjadi? menurut Antropolog kelahiran Belanda tahun 1935, Niels Mulder memberi makna mudik dengan simbol aktivitas migrasi. Orang bergerak dari Jakarta menuju daerah-daerah di Jawa pada akhir bulan Ramadan. Penggambaran ini tentu saja sangat sempit karena mudik berlaku pula bagi penduduk di kota-kota besar di Jawa menuju ke Sumatra, Kalimatan, dan daerah lainnya.Akan tetapi, benar adanya teori Niels Mulder tentang mudik kalaudilihat dari segi asal usul tradisi mudik. Seperti dikatakan budayawanasal Bandung, Jacob Sumarjo, orang-orang Jawa yang merintis tradisimudik ini (”Tradisi Mudik Tradisi Primordial?”, “PR”, 27 November 2002).
Mengapa mudik tidak tergantikan oleh teknologi modern? Ini masalahsangat mendasar. Kalau dipilah, orang-orang kalangan bawah yang tidakmemiliki telefon pribadi bisa menelefon lewat warung telekomunikasidengan membayar sesuai lama bicara. Atau menggunakan sarana suratmelalui jasa kurir, pos, paket. Apalagi sekarang Jamannya SMS, tinggalpencet2 jempol langsung terkirim. “Tetapi, kalau tidak pulang rasanyaada suasana Lebaran di kampung yang hilang dan gantinya tidak bisaditemukan di Jakarta,” kata Parmin, seorang pengemudi bajaj di Jakarta,memberi alasan mengapa harus mudik.Menurut Abdul Jamil, Dari perspektif historis, kepulangan orang kekampung saat lebaran, merupakan cermin dari pertemuan budaya lokal danIslam normatif yang menghasilkan kombinasi yang hingga kini masihbertahan. Istilah orang NU adalah al-muhafadhah ala al-qadim al-salihwa al-ahdhu bi al-jadid al-aslah atau continuity and change.
Orangpulang kampung pada momen tertentu konon sudah menjadi kebiasaansebelum datangnya Islam di tanah Jawa. Mereka membuat upacara bersihdesa yang dilakukan setiap tahun. Doa dipanjatkan bersama-sama dikawasan pemakaman untuk keselamatan penduduk dan untuk itu merekaberharap orang-orang yang ada di rantau bisa pulang melakukan hal yang sama.Magnetapa yang menjadikan begitu banyak orang memiliki antusiasme pulang kekampung saat lebaran, akan sulit untuk menjawabnya.
Banyak orientasinilai menyelinap dalam alam pikiran tukang batu yang rela berjejalan dikereta kelas ekonomi atau konvoi sepeda motor ratusan kilometer dariJakarta ke kampung halaman. Prosesi melelahkan mereka sering harusditebus dengan harga yang begitu mahal hanya untuk memenuhi doronganyang tak masuk akal, juga tak jelas kerangka teologisnya. Ketikaditanya apa yang kau cari saat mudik, jawabnya bisa berupa pertanyaanbalik, apakah tak ada pertanyaan lain yang lebih gampang untuk dijawab.Mengapa mereka yang memiliki atau bisa memanfaatkan fasilitas telefon, internet, tetap rela berdesakan, antre, membeli tiket kereta api, pesawat, atau bus? Dari sudut pandang Islam, orang-orang yang rela berdesak-desakan untuk memperoleh tiket kendaraan untuk mudik memperoleh justifikasi kemuliaan dalam rangka membangun silaturahmi.
Rasulullah Nabi Muhammad saw. mengajarkan, sesama orang Islam diharamkan tidak bertegur sapa selama tiga hari. Anjurannya dalam tempo waktu itu harus memperbaiki silaturahmi dengan saling memaafkan.Umumnya sikap saling memaafkan dilangsungkan dengan tasamuh, temu muka, antara dua pihak yang berselisih paham atau konflik. Dalam konteks mudik bisa dikonotasikan sebagai momentum merajut kembali hati yang luka sesama saudara, kerabat, teman lama yang lama tidak bertemu. Barangkali selama berpisah bisa saja terjadi selisih paham, miscommunication, pergunjingan atau menggosipkan tanpa didasari alasan akurat.
Momentum pertemuan itu bisa dijadikan sarana untuk instrospeksi, saling mengoreksi diri, kemudian merajut ulang persaudaraan, kekeluargaan, pertemanan, dan jalinan lainnya untuk mempertautkan hati.Secara fungsional, Rasulullah saw., memaknai silaturahmi sebagai sarana memperpanjang umur. Nisbat demikian selayaknya tidak diartikan secara harfiah bahwa orang bisa lebih lama hidup kalau banyak berkunjung ke teman, saudara, kerabat, dan kenalan lainnya. Barangkali lebih tepat diartikan bahwa silaturahmi bisa tetap terus terjalin sehinga berlangsung terus hubungan persaudaraan, kekeluargaan, dan lainnya. Pasalnya, pertemuan bisa dipelopori komunitas atau satu level generasi atau seangkatan dengan mengajak generasi penerusnya. Dengan demikian, tetap terjalin persaudaraan, komunikasi dari generasi ke generasi. Dalam logika ini makna silaturahmi bisa memperpanjang usia bisa dipahami secara jernih.
Maka, mudik sebagai bagian aktualisasi tetap terjalinnya pertautan antar generasi dimaksud.Terlepas dari polemik Mudik: entah itu merupakan Tradisi yangmemang sudah mengakar, ataupun cuman sekedar gengsi para perantaukepada orang-orang dikampungnya, pasti ada hikmah dibalik itu semua.Yang pasti, aq cuman bisa mendo’akan supaya yang pada mudik dan yangngga pada mudik tetap mendapatkan perlindungan dari Allah SWT.Akhir kata, sebelum istirahat sejenak dari dunia Per-internet-an aq ucapkan:
MINAL AIDZIN WAL FAIZIN
MOHON MAAF LAHIR BATIN
aq ikutan mudik
bye bye c u next month!!*) artikel dikutip dari berbagai sumber…
Popularity: 2% [?]
Related posts
Tags: idul fitri, ied, lebaran, puasa, pulang kampung